Sejarah Karikatur Indonesia

Kamis, 08 Mei 2014
Posted by adam
Perkembangan Karikatur di Indonesia
(Priyanto Susanto)
catatan kecil ini tidak dimaksudkan untuk memberi gambaran lengkap tentang perkembangan karikatur di Indonesia. Ini lebih merupakan usaha awal untuk melihat secara garis besar karikatur negeri ini, dengan melihat beberapa aspek yang mengitarinya.
Untuk menyamakan istilah yang digunakan dalam seminar ini, maka yang dimaksud dengan karikatur adalah: Komentar, sindiran, kritikan (yang biasanya disampaikan secara lucu) melalui gambar tangan untuk dimuat dalam media pers (cetak).
Karikatur adalah karya konstekstual yang terikat pada tempat dan waktu pembuatannya. Sering juga karikatur dianggap sebagai karya jurnalistik dalam bentuk visual (editorial cartoon).
Bicara perkembangan karikatur tak lepas dari melihat perkembangan masalah yang terjadi di masyarakat di mana gambar tersebut dilahirkan. Karikatur merupakan refleksi dari apa yang saat itu hidup di tengah masyarakat, baik ideologi, politik, ekonomi dan berbagai aspek budaya lainnya.
Pada masa merebut kemerdekaan, perjuangan menjadi tema sentral yang bertujuan membangkitkan semangat. Sasarannya eksternal (Kolonialis Belanda). Selain cara ungkap yang langsung, ada pula penggunaan gaya simbolik atau perlambangan dalam karikatur msa itu.
Tahun lima puluhan, era demokrasi liberal, tema karikatur mulai beragam dengan banyaknya masalah yang muncul pada awal Indonesia membangun. Pada masa multi-partai ini banya media pers merupakan media publikasi golongan. Sering karikatur menjadi suara golongan tertentu. Bentuk kritikan sangat terbuka, hingga kadang menyerang pribadi/golongan. Gaya ungkap sinisme dan sarkasme seperti sah pada masa itu.
Gaya bebar begini merosot pada masa demokrasi terpimpin. Makin dominannya PKI mengendalikan keadaan membuat media kiri lebih punya kebebasan untuk menghantam golongan lain. Tema eksternal masa itu adalah Malaysia dan Nekolim, serta isu anti-nasakom, kapitalis-birokrat dan lain sebagainya. Yang menonjol dalam dunia komunikasi massa dan visual pada masa kini adalah simbolisme sloganisme.
Peristiwa 30 September 1965 merupakan arus balik kehidupan politik, di mana sebuah mitos besa secara mengejutkan dapat hancur. Dalam waktu relatif singkat perimbangan kekuatan berpihak paca kaum pembaharu. Setelah melewati represi masa pra gestapu, opini masyarakat kembali terbuka.
Pada situasi demikian karikatur muncul lebih berani dalam mengecam tokoh-tokoh Orde-Lama yang saat itu masih berpera. Kemudian kritik juga ditujukan pada mentalitas dan pola pikir Orde-Lama. Kritik tajam pada pemerintah merupakan ciri karikatur pada masa awal orde baru.
Namun kritik terbukan dalam media pers tak dapat berlanjut, karena dianggap bisa mengganggu stabilitas pembangunan nasional. Demikianlah media pers, termasuk karikatur, sedikit demi sedikit ditertibkan hingga hari ini. Tentu ini tak berarti kesempatan tertutup. Keluasan segi pembangunan yang digarap hingga hari ini membawa pula beragam masalah dalam masyarakat. Dalam hal ini media pers mengemban misi sebagai agen penyebar informasi pembangunan. Di sisi lain media pers juga menjadi media menyampaikan pendapat. Karikatur pada masa ini lebih banyak menyoroti masalah kebijakan pembangunan dan beberapa kasus yang timbul di masyarakat.
Mengenai apa dan bagaimana masalah tersebut diungkap bergantung pada kebijakan media pers di mana karikatur itu dimuat, jangkauan distribusi, latar belakang pembacanya dan situasi kondisi yang terjadi dari saat ke saat.

Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul


Apakah karikatur selalu ditujukan kepada pemerintah? Dengan demikian karikatur dipandang sebagai oposan terhadap apa yang dilakukan pemerintah. Kesederhanaan pandangan ini hanya melihat komunikasi dari dua sisi: yang perintah – yang diperintah. Padahal pemerintah bukan sebuah makhluk tunggal, tetapi organisasi rumit yang diurus banya orang mengelola beragam masalah. Masyarakat pun bukan sebuah kumpulan yang homogen. Interaksi yang terjadi dalam berbagai segi kehidupan lumayan kompleks untuk dilihat secara gampang, apalagi oleh seorang karikaturis.
Apakah karikatur bertujuan mengancam? Sering karikatur dianggap tempat untuk memarahi, mengejek dan menghina. Karikatur kemudian jadi lahan pemuas emosi yang menyebarkan rasa permusuhan. Sebaga media komunikasi hal ini tentu malah merugikan. Sikap demikian tak memberi kemungkinan dialog dan bersifat bijaksana.
Apakah betul karikatur dapat mengubah masyarakat? Sulit membayangkan hal tersebut. Opini masyarakat hanya mungkin berubah dengan komunikasi yang komprehensif melalui situasi yang mendukung perubahan tersebut.
Dalam mengungkap masalah, karikatur hanya mengangkatnya ke permukaan. Tersenyum jadi tanda terbukanya jembatan komunikasi antara gambar dan pelihat. Syukurlah bila pelihat menangkap wawasxan baru tentang suatu masalah dari ungkapan karikatur yang dilihatnya. Setidaknya karikatur merupakan upaya untuk melihat sebuah masalah tanpa sikap tegang dengan melihatnya dari sudur pandang lain.


dipetik dari sini

Poster

Posted by adam
Pengertian Poster 

Poster adalah karya seni atau desain grafis yang memuat komposisi gambardan huruf di atas kertas berukuran besar yang berisi pesan – pesan atau informasi kesehatan yang biasanya di tempel di tembok – tembok, di tempat – tempat umum atau di kendaraan umum. Sifat sebuah poster adalah mencari perhatian mata sekuat mungkin. Poster bisa menjadi sarana iklan, pendidikan, propaganda, dan dekorasi. Selain itu bisa pula berupa salinan karya seni terkenal.
Tujuan poster adalah menginformasikan kepada pembaca tentang sebuah informasi yang dikemas dengan kata-kata lebih singkat, padat, jelas dan menarik. Manfaat poster adalah agar para pembaca lebih mengerti apa yang ingin di ungkapkan sang penulis poster dengan menggunakan kata-kata yang lebih singkat dan sederhana.
Poster adalah gambar pada selembar kertas berukuran besar yang digantung atau ditempel di dinding atau permukaan lain. Poster merupakan alat untuk mengiklannkan sesuatu, sebagai alat propaganda, dan protes, serta maksud-maksud lain untuk menyampaikan berbagai pesan. Selain itu, poster juga dipergunakan secara perorangan sebagai sarana dekorasi yang murah meriah terutama bagi anak muda.
Dari kedua definisi tersebut diatas, jelaslah bahwa poster adalah salah satu bagian seni grafis yang memiliki gaya, aliran, maupun trend tersendiri yang tidak lepas dari suatu zaman. Oleh karena itu poster dibuat untuk menyampaikan pesan atau informasi, maka poster akan menjadi elemen dalam Desain Komunikasi Visual.


Ciri-ciri sebuah poster:
1. Desain grafisnya memuat komposisi gambar dan huruf di atas kertas berukuran besar.
2. Pengaplikasiannya dengan ditempel di dinding, tempat-tempat umum atau permukaan datar lainnya dengan sifat mencari perhatian mata sekuat mungkin.
3. Karena itu poster biasanya dibuat dengan warna-warna kontras dan kuat.
4. Bahasa singkat dan jelas.
5. Teks sebaiknya disertai gambar.
6. Dapat dibaca sambil lalu.


          Syarat sebuah poster:
1. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
2. Kalimatnya singkat, padat, jelas dan berisi
3. Dikombinasikan juga dalam bentuk gambar
4. Menarik minat untuk dilihat
5. Bahan yang digunakan bagus, tidak mudak rusak, sobek.
6. Ukuran disesuaikan dengan tempat pemasangan dan target pembaca.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat poster adalah sebagai berikut:
1. gambar dibuat mencolok sesuai dengan ide yang hendak disampaikan.
2. kata-kata efektif, sugestif, dan mudah diingat.
3. tulisan dibuat besar-besar dan mudah dibaca.
4. poster dipasang di tempat yang strategis.



Prinsip Desain poster

1. Keseimbangan/ Balencing 
Keseimbangan merupakan prinsip dalam komposisi yangmenghindari kesan berat sebelah atas suatu bidang atau ruang yangdiisi dengan unsur-unsur rupa. Ada dua jenis keseimbangan tataletak desain yang bisa diterapkan: desain simetris/ formal dan tidaksimetris/ asimetris/ non-formal. Keseimbangan dalam bentuk dan ukuran Keseimbangan dalam warna Keseimbangan yang diperoleh karena tekstur  Dari kesemuanya itu yang paling terasa adalah keseimbanganyang terbentuk dari dari komposisi
 2. Alur Baca/ Movement 
Alur baca yang diatur secara sistematis oleh desainer untukmengarahkan “mata pembaca” dalam menelusuri informasi, dari satubagian ke bagian yang lain.
3. Penekanan/ Emphasis
Penekanan bisa dicapai dengan membuat judul atau illustrasi yang jauh lebih menonjol dari elemen desain lain berdasarkan urutanprioritas.Penekanan bisa dicapai dengan: Perbandingan ukuran Latar belakang yang kontras dengan tulisan atau gambar  Perbedaan warna yang mencolok Memanfaatkan bidang kosongPerbedaan jenis, ukuran, dan warna huruf 
4. Kesatuan/ Unity 
Beberapa bagian dalam poster harus digabung atau dipisahsedemikian rupa menjadi kelompok-kelompok informasi. Misalnyanama gedung tempat acara berlangsung harus dekat dengan teksalamat.Kesatuan dapat dicapai dengan: Mendekatkan beberapa elemen desain Dibuat bertumpuk Memanfaatkan garuis untuk pemisahan informasi Dan perbedaan informasi Perbedaan warna latar belakang
5. Kesan/ Specific Appeal 
Poster dirancang untuk keperluan khusus berdasarkan suatu tema.Hal ini untuk memberikan “kesan” suatu sentuhan yang sesuaidengan produk, acara, atau layanan.Misalnya: Poster untuk parfum wanita sebaiknya terkesan feminin, lembut atau dekoratif. Poster untuk menjual truk, sebaiknya menggunakan warna-warnayang berat, huruf-huruf yang tebal dan masif.

Jenis-jenis Poster
Para pengamat seni grafis mengelompokkan jenis poster menjadi:
1.      Poster Propaganda
2. Poster KampanyeSejak munculnya negara-negara demokrasi yang menyerahkankeputusan mengenai kepemimpinan kepada rakyat, poster dipergunakan sebagai alat untuk mencari simpati dari calonpemimpin pada pemilihan umum. Hingga kini, poster kampanyeselalu muncul pada setiap kesempatan saat dilakukan pemilihankepada kepala daerah maupun kepala negara.
3. Poster WantedPoster ini digunakan untuk memuat sayembara untuk menemukanpenjahat yang sedang dicari negara.
4. Poster CheesecakePoster ini merupakan jenis poster anak-anak muda. Poster inibiasanya berisikan gambar bintang-bintang rock dan pop, artis musik.
5. Poster FilmIndustri film sangat memanfaatkan poster untuk mempopulerkan film-filmnya. Hingga kini poster film dibuat menggunakan teknolog danprofesionalisme yang sangat tinggi karena dari situ dilibatkanlahkemampuan finansial yang sangat luas. Desainer-desainer terbaikdisewa untuk membuat karya-karya poster untuk mempromosikanfilm.
6. Poster Komik BukuPopularitas komik dunia mencapai puncaknya pada tahun 60-an. Halini memicu produksi massal dari poster-poster komik pada tahun 70-an ke atas.
7. Poster AffirmationTujuan pembuatan poster affirmation adalah untuk memotivasidengan kata-kata yang tertulis pada poster tersebut. Teks/ kata-katamotivasi yang tercantum biasanya tentang Leadership, Opportunitydan lain-lain.
8. Poster Riset dan Kegiatan IlmiahPoster ini merupakan jenis poster yang sering dipakai dikalanganakademis untuk mempromosikan kegiatan ilmiah yang hendakdilakukan.
9. Poster di dalam kelasPoster kelas mula-mula populer disekolah-sekolah di Amreika Utara.Ada berbagai jenis poster kelas yang biasa dibuat, yaitu poster untukmemotivasi murid agar bersikap baik, mengikuti desiplin sekolah,poster yang berisikan bahan pelajaran yang disusun debagaireferensi singkat, tabel perkalian, pengenalan bahasa asing, peta danlain-lain.
10. Poster Karya SeniPoster karya seni merupakan ekspresi dari desain grafis yang dibuatdengan tujuan “ seni untuk seni”. Hal itu biasanya merupakan ajangberkreasi bagi mahasiswa yang mempelajari bidang seni grafis.
11. Poster Pelayanan MasyarakatPelayanan masyarakat atau social compaign merupanan suatu jenisposter yang tidak bersifat komersial, atau tidakdiperdagangkan(seperti poster-poster Cheseecage, poster film,poster karya seni, dsb), karena poster semacam ini seringdilombakan oleh lembaga-lembaga pemerintahan maupun LSM.
12. Poster KomersialIni adalah jenis poster paling banyak kita jumpai di mana saja.poster  jenis ini di desain dan diproduksi sebagai sarana untukmempromosikan suatu produk dan dirpoduksi dengan budget tertentusesuai anggaran sales promotion. Munculnya poster-poster iklanyang krestif mampu mencuri perhatian pembacanya.
           



Kriteria sebuah poster yang baik:
1. Tulisan didalam poster harus jelas dan terbaca
Tulisan dalam poster itu sangat berguna sekali, karena pokok utama penyampaian pesan atau informasi dari sebuah poster adalah dari tulisan dan gambar. Dengan tulisan yang jelas dan mudah terbaca maka pesan yang hendak kita sampaikan ke sasaran melalui poster tersebut akan tersampaikan dengan baik.
2. Kombinasi gambar dan tulisan tidak berlebihan
Kekuatan utama dari sebuah poster adalah kombinasi antara tulisan dan gambar. Kadang dalam membuat poster, kita sering terjebak dengan ide kreatif kita sendiri. Maksud hati ingin membuat gambar dan tulisan yang bagus dan cantik tetapi yang terjadi malah gambar dan tulisan itu menjadi berlebihan. Misalnya banyaknya kombinasi warna, perpaduan, proporsi, peletakan, dan kuantitas gambar dan tulisan menjadikan poster yang tidak jelas bahkan bisa membuat kesan tampilan yang ruwet dan semarawut.
3. Jangan Egois dan hanya mengikuti selera kita
Jika kita ingin membuat sebuah poster untuk umum, tempatkanlah ego dan selera kita sebaik mungkin, maksudnya adalah posisikan diri kita sebagai pembaca bukan pembuat. Dengan begitu jika posisi kita sebagai pembaca maka apa yang akan kita tuangkan secara tidak langsung akan mengikuti selera pembaca.
4. Kombinasi Warna Yang Tepat
Coba anda bayangkan apabila poster anda mempunyai background warna putih (kode warna FFFFFF) dengan gambar dan tulisan yang berwarna grey (kode warna F8F8F8), pasti hasilnya tidak Jelas. Lain halnya jika background gambar berwarna merah tua (kode warna 66000) dengan kombinasi gambar atau tulisan berwarna kuning menyala (kode warna FFFF00) pasti hasilnya lebih bagus dan menarik.

Karikatur

Karikatur adalah gambar atau penggambaran suatu objek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut. Kata karikatur berasal dari kata Italia caricare yang berarti memberi muatan atau melebih-lebihkan. Karikatur menggambarkan subjek yang dikenal dan umumnya dimaksudkan untuk menimbulkan kelucuan bagi pihak yang mengenal subjek tersebut. Karikatur dibedakan dari kartun karena karikatur tidak membentuk cerita sebagaimana kartun, namun karikatur dapat menjadi unsur dalam kartun, misalnya dalam kartun editorial. Orang yang membuat karikatur disebut sebagai karikaturis.
Karikatur sebagaimana yang dikenal sekarang berasal dari Italia abad ke-16. Pada abad ke-18, karikatur telah menjangkau masyarakat luas melalui media cetak dan, terutama di Inggris, telah menjadi sarana kritik sosial dan politis. Pada abad berikutnya, berbagai majalah satire menjadi media utama karikatur; peran yang kemudian dilanjutkan oleh surat kabarharian pada abad ke-20. Selain sebagai bentuk seni dan hiburan, karikatur juga telah digunakan dalam bidang psikologiuntuk meneliti bagaimana manusia mengenali wajah.

Asal-usul karikatur

Lembaran karikatur karya Annibale Carracci
Walaupun gambar satire—seperti gambar hewan yang bertingkah laku seperti manusia—sudah ditemukan setidaknya sejak zamanMesir Kuno, popularitas seni karikatur berasal dari Italia abad Renaisans. Pada mulanya, karikatur dibuat sebagai lelucon iseng oleh para seniman di studio, seperti Leonardo da Vinci dan Carracci bersaudara—Agostino dan Annibale serta Lodovico sepupu mereka, untuk menghibur dirinya sendiri atau kawan-kawannya dengan menggambar patron ataupun subjek lukisannya secara berlebihan. Carracci bersaudara diyakini sebagai seniman-seniman pertama yang terkenal akan karikatur mereka, dan Annibale diyakini sebagai orang pertama yang menggunakan istilah ritrattini carichi (potret yang dilebih-lebihkan). Selanjutnya, Pier Leone Ghezzi menekuni seni ini dan membangun kariernya dengan lebih dari 2.000 karya karikatur orang kebanyakan maupun tokoh terkenal. Karikatur-karikatur tersebut tidak dipublikasikan ataupun disebarluaskan, namun menjadi hiburan di kalangan elite. Setelah menyebar di Italia pada abad ke-16, karikatur sebagai langgam visual baru menyebar ke pers popular Eropa lebih dari seabad kemudian.

Abad ke-18 dan awal abad ke-19

Gargantua, karya Honoré Daumier
Karikatur sebagai bentuk seni lukis baru berkembang di Inggris setelah penerbitan sejumlah karya Ghezzi dan seniman Italia lainnya pada tahun 1744. Contoh karikaturis Inggris yang popular pada abad ke-18 adalah James GillrayThomas Rowlandson, dan George Cruikshank yang menggabungkan unsur karikatur dengan kartun menjadi kartun satire. Namun demikian, pada tahun 1830-an karya-karya mereka sudah kurang popular di Inggris dan kemudian diekspor ke Prancis dalam mingguan La Caricature dan kemudian harian Le Charivari yang sangat sukses, keduanya dipimpin oleh Charles Philipon.
Ilustrasi patung Berliozkarya Jean-Pierre Dantan
Dua terbitan Charles Philipon tersebut membuat Prancis menjadi pusat baru perkarikaturan. Sejumlah karikaturis terbaik pada zaman itu dipekerjakan oleh Philipon; Paul GavarniJ.J. Grandville, dan terutamaHonoré Daumier, yang dianggap sebagai salah satu seniman paling terampil dalam sejarah karikatur. Baik Philipon maupun Daumier pernah ditahan akibat karikatur mereka di kedua terbitan tersebut yang meng-kritik pemerintahan raja Prancis saat itu, Louis-Philippe. Pada salah satu sidang pengadilannya, Philipon menggambar potret Raja Louis-Philippe yang bermetamorfosis menjadi buah pir dan menyatakan pembelaan bahwa ada banyak hal yang mirip satu sama lain di alam sehingga tidak boleh ada pembatasan atas kreativitas seniman. Daumier sendiri pertama kali diadili karena Gargantua, kartun karyanya yang meng-karikaturkan Louis-Philippe sebagai raksasa yang memakan uang rakyat.
Karikaturisme kemudian menyebar ke media lain, yaitu patung, dimulai dari patung-patung karikatur karya Jean-Pierre Dantan. Gaya patung Dantan ini sangat mempengaruhi para seniman karikatur, sehingga mereka pun menciptakan patung-patung kepala penyanyi, penulis, pemusik dunia terkenal dan banyak aktor terkenal dari Comédie-Française. Bentuknya mungil dan menjadi sangat diminati, dipakai sebagai hiasan ujung tongkat, pegangan kayu, topeng, dan alat permainan lainnya.

Akhir abad ke-19

KarikaturBenjamin Disraelikarya Carlo Pellegriniadalah karikatur pertama pada majalah Vanity Fairterbitan London.
Pada tahun 1868 di LondonThomas Gibson Bowles mulai menerbitkan Vanity Fairmajalah 'politik, sosial, dan kesusastraan' yang kemudian terkenal karena memuat karikatur berwarna yang menggambarkan politisi, tokoh sastra, raja atau ratu dari luar negeri, ilmuwan, olahragawan, dan tokoh-tokoh terkenal lain. Sebagian besar karikatur tersebut digambar oleh Carlo Pellegrini—kartunis Italia yang menggunakan nama samaran "Singe" (bahasa Prancis untuk monyet) dan "Ape" (bahasa Inggris untuk kera) untuk mencerminkan pekerjaannya, yaitu menirukan subjeknya dengan tidak sempurna (to ape, dalam bahasa Inggris)—dan Leslie Ward("Spy"), walaupun banyak seniman lain juga berkarya untuk majalah tersebut. Setiap karikatur tersebut diberi komentar yangmengolok-olok oleh Bowles dan editor-editor selanjutnya yang menggunakan nama samaran "Jehu Junior". Majalah ini disebut sebagai yang paling banyak dibaca oleh para pejabat dan orang kaya Inggris dibandingkan dengan mingguan lainnya.
Karikatur Vanity Fair tersebut memengaruhi Joseph Keppler, imigran Austria yang menerbitkan majalah Puck di New YorkAmerika Serikat. Mulai terbit dalam bahasa Jerman pada tahun 1876 dan kemudian bahasa Inggris setengah tahun kemudian, majalah ini juga memuat karikatur tokoh-tokoh terkenal yang disebut puckograph. Kesuksesan Puck mengilhami penerbit lain untuk menirunya, dan segera saja surat kabar-surat kabar dan terbitan tetap lainnya mulai secara rutin memuat karikatur.
Sementara itu, kartun editorial Thomas Nast yang sering berisi karikatur William M. Tweed, seorang politikus New York yang korup, dimuat di majalah Harper's Weekly dan turut berperan menggulingkan kekuasaan politikus tersebut. Setelah Tweed melarikan diri dari Amerika Serikat karena tuduhan kriminalitas, seorang polisi di VigoSpanyol, berhasil mengenalinya berkat kartun-kartun Nast tersebut.

Awal abad ke-20

Karikatur abstrakAlfred Stieglitz karyaMarius de Zayas
Pada awal dekade ke-2 abad ke-20, Marius de Zayas, seorang karikaturis Meksiko yang hijrah ke New York, mengembangkan gaya seni lukis yang ia sebut karikatur abstrak. Selama berkarya di Meksiko maupun pada tahun-tahun pertamanya di New York, de Zayas menggunakan gaya yang realistik dan representasional. Namun demikian, sewaktu mengunjungi Paris selama hampir setahun penuh dan setelah bertemu Picasso dengan gaya kubismenya, de Zayas mengungkapkan ketidakpuasannya atas metode karikatur tradisional. Sekembalinya ke Amerika Serikat pada tahun 1911, de Zayas mulai mengeksplorasi gaya barunya yang memadukan bentuk-bentuk geometris datar simetris dan persamaan-persamaan matematika. Dengan gaya karikaturnya itu, de Zayas disebut "menjembatani kesenjangan antara karikatur pesohor populer dalam media komersial dengan keprihatinan dunia seni avant-gardeuntuk menemukan cara inovatif menggambarkan manusia tanpa kemiripan tersurat".
Seusai Perang Dunia I, popularitas karikatur berkembang secara dramatis di Amerika Serikat seiring dengan perkembangan film,fotografi, dan majalah yang membuat wajah para pesohor dari bintang film sampai atlet dan politisi dengan mudah dikenali oleh umum. Karikatur teatris menjadi genre tersendiri dalam seni populer masa tersebut, dimulai oleh Al Frueh yang menerbitkanStage Folk, kumpulan karikaturnya yang bergaya Art Deco, pada tahun 1922. Pada tahun yang sama, Ralph Barton juga terkenal sebagai karikaturis teatris setelah menghiasi tirai teater pada salah satu pertunjukan di Broadway dengan 139 karikatur bintang teater, kritikus drama, dan orang-orang ternama dari masyarakat kelas atas New York. Miguel Covarrubias, yang berasal dari Meksiko, menyusul dengan karyanya di berbagai surat kabar dan majalah serta buku kumpulan karikatur pertamanya yang terbit pada tahun 1925, The Prince of Wales and Other Famous AmericansAlex Gard yang berimigrasi dari Rusia juga mengkhususkan diri menggambar tokoh-tokoh teater, terutama lebih dari 700 karyanya yang terpampang di dinding restoran "Sardi's" di New York yang digambar dengan imbalan makan gratis di restoran tersebut sejak tahun 1927 hingga kematiannya tahun 1948. Namun demikian, Al Hirschfeld adalah seniman yang dianggap sebagai tetua semua karikaturis teatris.
Karikatur teatris Hirschfeld mulai dimuat di sejumlah surat kabar di New York setelah karikatur aktor Prancis Sacha Guitry karyanya, yang semula ia gambar pada salah satu pertunjukan teater Guitry dan membuat seorang wartawan terkesan hingga menyarankan Hirschfeld untuk menjualnya, dimuat di halaman depan surat kabar New York Herald Tribune pada tahun 1926. Akan tetapi, gaya khas karikatur kaligrafis linear Hirschfeld baru berkembang setelah ia mengunjungi Bali pada tahun 1932 atas undangan Covarrubias. Ia mengaku terkesan dengan wayang kulit Jawa dan dipengaruhi oleh gaya senimanukiyo-e Jepang seperti HarunobuUtamaro, dan Hokusai, maupun oleh Covarrubias. Sepanjang kariernya, ia membuat karikatur hampir semua tokoh penting teater Amerika Serikat, dan orang yang sudah dibuat karikaturnya oleh Hirschfeld menjadi dianggap tokoh sukses. Karyanya tampil pada hampir semua terbitan ternama selama sembilan dekade, termasuk hampir tujuh puluh lima tahun pada harian The New York Times, serta banyak poster, buku, dan sampul rekaman, hingga kematiannya pada tahun 2003.

Akhir abad ke-20

Karikatur Lyndon Johnson karya David Levine
Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, karikatur politik mengalami "kelahiran kembali" dalam masa yang oleh Steven Heller, direktur seni senior The New York Times, disebut sebagai "periode paling vital dalam perkarikaturan abad ke-20". Hal-hal seperti Perang Vietnamskandal Watergatekebudayaan pemudafeminisme, dan hak-hak sipil menjadi sasaran karikaturis dan kartunis politik pada masa ini yang dipelopori oleh David LevineEdward Sorel, dan Robert Grossman dari Amerika Serikat serta Ralph Steadmandan Gerald Scarfe dari Inggris. Karya mereka tampil di majalah-majalah seperti The New York Review of BooksNew York, danEsquire maupun media protes lainnya.
David Levine beberapa kali disebut sebagai karikaturis terhebat pada masanya. Karyanya tampil sebagai ilustrasi artikel pada majalah The New York Review of Books mulai tahun 1963 hingga 44 tahun kemudian, dan lebih dari 6.000 karikatur penulis, artis, dan politisi yang digambarnya dengan pena dan tinta dimuat di berbagai terbitan prestisius seperti TimeEsquire, dan The New Yorker. Untuk membuat karikatur pada The New York Review of Books, Levine menelaah terlebih dahulu buram artikel yang akan diberi ilustrasi, bersama dengan foto tokoh yang oleh majalah tersebut diminta dibuat karikaturnya. The New York Times mendeskripsikan karikatur Levine sebagai "berkepala besar, berekspresi murung, menyelisik secara tajam, dan hampir tidak pernah memuji"[34] Salah satu karyanya yang terkenal ialah karikatur Presiden Amerika Serikat Lyndon Johnson yang sedang menunjukkan bekas luka operasi yang digambarkan Levine berbentuk seperti peta Vietnam.
Pada tahun 1980-an, acara televisi Inggris Spitting Image yang menampilkan karikatur dalam bentuk boneka mengolok-olok politisi dan para pemimpin partai pada era Margaret Thatcher. Program yang ditayangkan tahun 1984–1996 ini dimotori oleh Roger Law dan Peter Fluck yang pada tahun 1970-an sudah membuat karikatur untuk The Sunday Times MagazineThe New York Times, dan sejumlah majalah internasional. Spitting Image mulanya dikritik karena karikaturnya dianggap bersifat ofensif, terutama karikaturnya atas keluarga kerajaan Inggris, namun kemudian menjadi sukses besar. Sesudah itu, acara ini ditiru di berbagai negara, dari Amerika Serikat hingga Iran.

sumber :  wikipedia

Proses Pembuatan Manga/ Komik

Rabu, 07 Mei 2014
Posted by adam

Proses Pembuatan Komik / Manga

Kita pasti sering membaca komik. Baik di majalah, koran atau pun dengan membelinya. Banyak orang yang memandang komik sebagai suatu karya picisan. Tapi para penggemar komik nampaknya tak begitu ambil pusing mengenai hal itu. Karena dalam komik, cerita dapat menjadi prioritas kedua setelah gambar….meski beberapa ada yang memandang gambar nomor dua, yang penting ceritanya. Kebanyakan yang memandang seperti ini karena sudah bosan dengan gambar yang monoton

Jenis-jenis Komik

Posted by adam
Di posting sebelumnya kita sudah di kenalkan dengan pengertian komik. Sebelum kita memulai menggambar komik, mari kita kenali jenis-jenis komiknya dulu.
Berikut adalah jenis-jenis komik dengan pengertiannya :
  1. Kartun (Cartoon)
    Dimana komik yang isinya hanya berupa satu tampilan, komik ini didalamnya berisi beberapa gambar tokoh yang digabungkan dengan tulisan- tulisan. Tujuan komik ini biasanya mengandung unsur kritikan, sindiran, dan humor. Sehingga dari gambar(kartun/tokoh) dan tulisan tersebut mampu memberikan sebuah arti yang jelas sehingga pembaca dapat memahami maksud dan tujuannya dari komik tersebut.



Pengertian, Ciri dan Jenis Manga



aneka manga
Heloo guys :) udah lama yaaa ga posting. Nah berhubung lagi seneng-senengnya bikin komik, kali ini saya bakal ngeshare soal manga. 

Hari gini ga mungkin gatau apa itu manga, (bukan MANGGA ya !) nah ini penjelasan detail mengenai manga. 

Manga (漫画) (baca: man-ga, atau ma-ng-ga) merupakan sebutan untuk komik dalam bahasa Jepang sedangkan di luar Jepang, kata tersebut digunakan khusus untuk membicarakan tentang komik Jepang. Mangaka (漫画家) (baca: man-ga-ka, atau ma-ng-ga-ka) adalah orang yang menggambar manga.

Diberdayakan oleh Blogger.
Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Powered By Blogger

Terjemahan

Followers

Instagram

- Copyright © Hardedge Jr -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -